Dalam rangka hari menanam pohon
Indonesia, Bulan menanam pohon, serta
Gerakan perempuan tanan dan pelihara
pohong tingkat kabupaten Lampung Barat
tahun 2012, Bupati Lampung Barat Drs. Hi.
Mukhlis Basri dan Wakil Bupati Makmur
Azhari melakukan penamaman pohon di
Pekon Semarang Jaya Kecamatan Air
Hitam sekaligus peresmian Kantor
Kecamatan Air Hitam.
Dalam sambutannya, Mukhlis Basri
mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk
bersama-sama membudayakan penamanan
pohon, sebagai penyangga kehidupan.
Dijelaskannya dengan menjaga kelestarian
hutan akan berpengaruh langsung dengan
siklus kehidupan, baik manusia, hewan dan
lingkungan. Seperti halnya ketersediaan air
bersih, bahkan dengan pelestarian hutan
juga berdampak pada terjaganya kesehatan
masyarakat.
" Jika hutan rusak maka dampaknya bisa
terjadi bencana longsor, banjir, bahkan bisa
terjadi konplik antara manusia dengan
binatang," ujarnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan
Amirian dalam laporannya mengatakan
tujuan dari penamanan pohon tersebut
diantaranya, merehabilitasi guna
mengembalikan fungsi hutan, dan kegiatan
Konservasi keaneragaman hayati baik flora
dan fauna termasuk ketahanan pangan.
Serta Penyerapan karbondioksida dalam
rangka mitigasi perubahan iklim global.
Sementara untuk jangka panjang,
berkontribusi terhadap penyediaan sandang
dan pangan, energi, dan ketersidiaan air
tanah utk mendukung terwujudnya
kesejahteraan masyarakat.
Dan untuk mendukung pelestarian hutan
tersebut sejauh ini telah tertanam
sebanyak 3.777. 200 bibit pohon, yang
terdiri dari Program SCBFWM sebanyak 75
ribu batang, Kebun bibit rakyat sebanyak
3.350.000 bibit, Dana alokasi khusus
112.000 bibit. Selanjutnya RHL-TNI
sebanyak 200 ribu bibit, Rehabilitasi
sumber mata air sebanyak 10 ribu bibit
dan Gelam sebanyak 30,200 bibit.
Pada kesempatan itu juga bupati
mengawali dengan memukul kentongan
tanda di canangkan hari menanam pohon
indonesia, bulan menanam nasional, serta
gerakan perempuan tanam dan pelihara
pohon tahun 2012 sekaligus meresmikan ke
kantor kecamatan Air Hitam.
Selanjutnya penyerahan secara simbolis
izin usaha pemanfaatan HKm dan bantuan-
bantuan berupa :
I. Berdasarkan Keputusan Bupati
tentang IUPHKm untuk masa izin 35 tahun
diserahkan kepada kelompok HKm yaitu :
1. Gunung Raya. 2. Wana jaya, 3. Abung
jaya.
II. Keputusan bupati tentang izin
pembentukan kelembagaan kelompok tani
untuk masa izin 5 tahun kepada kelompok :
1. Fajar sari, 2. Mabar jaya.
III. Rencana umum/rencana operasional
kepada kelompok : 1. Harapan lestari, 2.
Wana marga rahayu.
IV. Penyerahan sepeda motor kepada
penyuluh kehutanan dan staf dinas
kehutanan. (Bur/TIM BJ/Humas Lambar)
Kamis, 03 Oktober 2013
HUTANKU KEHIDUPANKU
Rabu, 02 Oktober 2013
EROSI
Hilangnya tanah, atau disebut erosi,
disebabkan oleh angin dan air
mengikis tanah dan menghanyutkannya .
Melindungi tanah dari erosi, terutama di
lereng bukit yang curam, akan
meningkatkan kemampuan tanah untuk
menumbuhkan tanaman, melindungi
sumber-sumber air di bagian hilir, dan
mencegah terjadinya tanah longsor . Para
petani menaati 3 prinsip untuk mencegah
erosi dan mengalirnya air di permukaan
tanah:
1 . Memperlambat aliran air dengan
membuat penghalang alami dari batas
air tertinggi sampai ke bawah .
2 . Memecah jalur aliran air dengan cara
membuat cabang-cabang saluran untuk
membaginya dan mengarahkan alirannya .
3 . Membenamkan air dengan cara
memperbaiki struktur tanah sehingga
air dapat tersaring masuk ke dalam tanah .
Tanda-tanda terjadinya erosi kadang-
kadang sulit dikenali . Antara lain adanya
tanaman yang produksinya berkurang
tidak sebanyak biasa, atau sungai yang
mengandung lebih banyak lumpur
dibanding sebelumnya (terutama setelah
terjadinya badai), dan tanah yang semakin
tidak subur.
Ketika erosi belum terjadi, dapat dicegah
dengan mempertahankan tanaman dan
pepohonan sebanyak mungkin, dan dengan
mengarahkan aliran air permukaan agar
masuk ke dalam selokan, kolam, dan
aliran air alami . Saat erosi sudah parah,
masih ada kemungkinan untuk
menghentikannya dan mengembalikan
kesuburan tanah . Bahkan dengan
meletakkan sebarisan batu atau
membangun dinding batu yang rendah
membujur di kemiringan lahan dapat
mencegah tanah terhanyut ke kaki bukit,
dan menciptakan tempat yang subur untuk
pohon dan tanaman pangan . Metode
usahatani berkelanjutan seperti
penggunaan pupuk hijau, melakukan rotasi
tanaman, pemberian mulsa, dan
penanaman pohon bersama dengan
tanaman pangan juga merupakan
cara melindungi tanah dan
mempertahankan sumberdaya air.
KAPULAGA BIN KAPOL
Tanaman Kapulogo atau
Kapulaga yang dalam
bahasa ilmiahnya disebut
dengan <em>Elletria
Cardamomum</em>
merupakan salah satu diantara tanaman
rempah yang mempunyai nilai ekonomis
tinggi dan berprospek cerah mengingat
kapulaga sebagai bahan “obat alam” diyakini
tidak mempunyai efek samping dibanding
dengan menggunakan obat kimiawi.
Selain itu, dalam pembudidayaannya tanaman
ini pun tidak memerlukan lahan tersendiri,
dalam arti tumbuh di bawah naungan
tanaman lain sebagai tanaman sela atau
tanaman tumpangsari. Hasil berupa buah jika
sudah kering mempnyai nilai ekonomis yang
cukup tinggi. Buah kering kapulaga disamping
sebagai bahan jamu, juga diambil minyak
atsirinya untuk bahan penyedap atau
pengharum makanan, minuman dan sebagai
bahan baku atau campuran di dalam industri
parfum.
Sistem pola tanam yang dapat diterapkan
dalam pengembangan tanaman kapulaga
adalah sistem pola tanam pekarangan dan
pola tanam perkebunan. Dengan adanya pola
tanam terpadu maka dapat diharapkan
penghasilan Petani meningkat disamping itu
juga dapat meningkatkan produktivitas lahan
perkebunan dan konservasi. Beranjak dari
kapulaga yang relatif mudah dibudidayakan
dan bisa dipanen 4 kali dalam setahun, maka
hal tersebut telah banyak menarik minat
petani untuk membudidayakan.
Syarat Tumbuh
Tanah yang cocok untuk ditanami kapulaga
adalah tanah lempung yang berwarna coklat,
memiliki humus tebal dan berdrainase baik.
Tanaman ini tidak tahan terhadap genangan
air, tanah yang memiliki topografi rata sampai
miring dapat ditanami tanaman ini. Di lahan
yang berlereng curam, rumpun tanaman yang
terbentuk akan berfungsi mengurangi atau
menghambat aliran air permukaan yang
berlebihan sehingga erosi permukaan dapat
ditekan.
Sedangkan untuk iklim, tanaman kapulaga
menghendaki kelembaban udara cukup tinggi
yaitu 40 – 75%, dengan curah hujan berkisar
antara 2.500 – 4000 milimeter per tahun.
Suhu harian rata-rata darah tempat tumbuh
tanaman kapulaga adalah berkisar antara 20
– 30 derajat celcius, dengan intensitas cahaya
terbaik bagi pertumbuhan tanaman berkisar
antara 30 – 70%. Kelebihan lain dari tanaman
kapulaga adalah dapat tumbuh baik pada
dataran rendah maupun dataran tinggi.
Sementara itu untuk memperoleh hasil yang
terbaik, ketinggian pada 300 – 500 meter dari
permukaan air laut merupakan daerah
budidaya yang paling tepat. (Warsana
SP,2000)
PERSIAPAN BIBIT
Penyediaan bibit kapulaga umumnya
diperbanyak dengan anakan atau tunas baru
atau percabangan rizoma yang membentuk
tunas. Bibit yang baik adalah tunas yang
tingginya lebih kurang 50 cm dengan akar
rizoma yang muda dan mata tunasnya
banyak, rizoma yang sudah tua
pertumbuhannya kurang baik.
PENGOLAHAN TANAH
Pengolahan tanah dilakukan pada bulan
September – Oktober dengna membersihkan
tanah dari batu, rumput-rumputan/gulma dan
sisa tanaman lainnya. Pencangkulan tanah
dilakukan sedalam kurang lebih 30 cm.
Persiapan lobang tanam dilakukan sebulan
sebelum penanaman dengan terlebih dahulu
dibuat lobang tanam dengan ukuran panjang
50 cm dan dalamnya 40 cm. Sebaiknya 15
hari setelah pembuatan lobang, tanah
dikembalikan lagi ke dalam lobang,
sebelumnya tanah dicampur dulu dengan
pupuk kandang secukupnya.
PENANAMAN
Untuk penanaman, sebaiknya dibuatkan
penaung. Penaung ditanam sebelum
penanaman kapulaga sehingga pada saat
tanam, penaung telah berfungsi dengan baik.
Jenis penaung diantaranya adalah : Lamtoro,
dadap dan sebagainya dengan perbandingan
1 : 2 (1 penaung – 2 kapulaga).
WAKTU TANAM
Waktu tanam yang baik yaitu awal hujan,
sekitar bulan Oktober – Desember. Caranya:
bila tanah olahan atau lobang tanam telah
tersedia dan bibit telah disiapkan, kemudian
buat lobang kecil, letakkan bibit sedalam 10 –
15 cm. Tanah di sekitarnya dipadatkan atau
ditimbun dengan memperhatikan tunas agar
tidak sampai terganggu (terluka atau patah).
Jarak tanam untuk kapulaga bisa digunakan
1m x 1,5m atau 1m x 2m dan juga bisa 1,5m
x 2m.
PEMELIHARAAN
Dalam pemeliharaan kapulaga, beberapa
pekerjaan penting yang harus dilakukan
antara lain: penyiangan rumput atau
pengendalian gulma, penggemburan diluar
rumpun untuk merangsang perumbuhan
anakan rimpang sehingga bisa tumbuh lebih
baik, pemotongan daun kering untuk tidak
menghalangi penyerbukan bunga, pemotongan
batang yang sudah agak tua atau menguning
untuk memberi kesempatan batang muda
tumbuh dengan baik, pengaturan anakan agar
tidak tumpang tindih dan untuk merangsang
pertumbuhan bunga atau buah juga unuk
mengurangi penguapan pada musim kemarau
serta untuk mendapatkan anakan atau bibit
baru.
Di masa pemeliharaan ini, yang tidak kalah
pentingnya juga pemberian mulsa berupa
bahan organik dari jenis tanaman leguminosa.
Untuk lebih meningkatkan mutu maka perlu
dilakukan pemupukan mengingat tanaman
kapulaga termasuk rakus akan unsur hara,
sehingga pemupukan sangat diperlukan
terutama sekali pupuk organik dan pupuk
buatan. Adapun cara dan jumlah pupuk yang
diberikan adalah berdasarkan masa
pertumbuhan TBM (Tanaman Belum
Menghasilkan). Untuk ini pupuk organik
diberikan pada saat pengolahan tanah, dan
pada saat penggemburan diluar rumpun
sebanyak 1 – 1,5 kg pupuk kandang,
pemupukan berikutnya setiap 3 bulan sekali.
Sedangkan untuk pupuk buatan diberikan
pada umur 1 bulan sebanyak 1 sendok makan
pupuk urea dan diulang pada umur 3 bulan
dengan 1 sendok pupuk urea disebar diluar
rumpun atau disemprotkan pada daun. Bagi
tanaman kapulaga yang sudah menghasilkan,
pupuk kandang diberikan sebanyak 10 – 15 kg
setiap rumpun dan pemberian selanjutnya
disesuaikan dengan kondisi tanaman dan
lingkungan.
Pupuk buatan diberikan 10 – 12,5 gram
berupa Urea dan TSP. Pupuk ini diberikan
diluar rumpun pada batas perakaran dengan
membuat selokan kecil, kemudian ditutup
dengan tanah dan disiram seperlunya.
Kapulaga sebagaimana tumbuhan lain, juga
tidak terhindar dari penyakit.Hama yang biasa
menyerang kapulaga adalah berupa kutu, ulat
pemakan daun, penggerek akar rimpang,
penggerek batang, penggerek buah dan
kumbang pamakan daun.
Pemberantasannya bisa dilakukan dengan
mempergunakan berbagai insektisida yang
dijual di pasaran bebas.Untuk penyakit yang
menyerang biasanya penyakit busuk (Mozaik)
yang disebabkan oleh virus. Cara
pengendalian yang efektif adalah dengan jalan
membuang tanaman yang terserang dan
menanam tanaman baru yang berasal dari
pembibitan asal biji.
PEMANENAN
Kapulaga dapat memberikan hasil setelah
berumur 2 – 3 tahun. Kapulaga berbuah
sepanjang tahun sehingga untuk pemanenan
ini tidak menentu. Dalam pemanenan
kapulaga dikenal istilah panen besar 4 kali
dan panen kecil 4 kali yang berlangsung
dalam 1 tahun secara berselang-seling.
Tanaman dapat dipergunakan sampai umur
10 – 15 tahun. Hasil panen per hektar bisa
mencapai 2 – 3 ton buah kering per tahun
dan ini berlaku untuk tanaman yang sudah
berumur belasan tahun.
Adapun syarat-syarat pemanenan kapulaga
adalah: Buah harus dipanen sebelum benar-
benar matang, bila dipanen terlalu matang
atau kering, buah akan pecah dan warnanya
juga kurang bagus. Waktu panen yang tepat
adalah jika buah sudah berwarna hijau
kekuning-kuningan.Cara panen yaitu dengan
memotong karangan bunga dibawah
dompolan buah.Buah yang sudah dipanen
kemudian dijemur sampai kering, sebaiknya
jangan terkena sinar matahari langsung atau
dikering anginkan.
Selasa, 01 Oktober 2013
Untuk apa sih kita menjaga HUTAN..?
Hutan yang tentu pasti ada pada
kehidupan kita, hutan memiliki banyak
fungsi dan kegunaan bagi hewan yang
menetap dan tinggal di dalamnya maupun
manusia yang memenuhi kebutuhan dari
adanya hutan.
Kegunaan hutan antara lain :
1. Sebagai Sumber Makanan
Hutan dijadikan penduduk di daerah
sekitar hutan sebagai sumber makanan
melalui berburu ataupun mengambil
tumbuhan-tumbuhan yang dapat
digunakan sebagai makanan.
Banyak tanaman-tanaman hutan yang
dapat digunakan sebagai makanan ataupun
sumber air bersih dari akarnya.
2. Kepentingan Komersial
Manusia mengambil banyak manfaat dari
ekosistem hutan. Banyak obat-obatan dan
farmasi telah ditemukan di tanaman asli
hutan. Masyarakat lokal bertahan hidup
pada tanaman dan hewan yang diambil
dari hutan. Produk yang tergantung pada
masyarakat modern seperti kayu, kertas
dan bambu semua berasal dari ekosistem
hutan. Banyak produk lainnya seperti
rempah-rempah, karet, dan pewarna juga
ditemukan di hutan-hutan di seluruh
dunia. Hutan yang penting bagi manusia
untuk alasan estetika juga, dan ekowisata
merupakan salah satu cara untuk
menggunakan dan mempromosikan
perlindungan hutan secara berkelanjutan :
a. Tempat Tinggal: Hutan juga rumah
bagi berbagai hewan, sebagian besar
hewan hidup di pohon-pohon, di dahan
pohon dan di bawah pohon.
b. Kertas: Semua jenis kertas dan
dalam setiap bidang pekerjaan,
pembuatannya dilakukan oleh berbagai
produk daun.
c. Rayon: Rayon juga disebut sutra
buatan, mereka diperoleh dari berbagai
jenis bambu dan berbagai kayu.
d. Kayu: Bahan untuk membuat
furnitur, jembatan dan perahu. Tanpa
menggunakan kayu semua hal yang
disebutkan tidaklah mungkin.
e. Bambu: Bambu juga merupakan
produk dari hutan untuk membuat lantai,
keranjang dan tali. Ini adalah hal terbaik
yang kita dapatkan dari hutan.
3. Obat herbal dari hutan
Banyak tanaman hutan dan hewan
menghasilkan racun, fungisida, antibiotik
dan senyawa biologis aktif lainnya sebagai
mekanisme pertahanan, tetapi banyak dari
mereka dapat dijadikan obat. Banyak
produk farmasi saat iniberasal dari spesies
hutan tropis, misalnya
a. kina dari pohon kina spp. untuk
mengobati kanker;
b. tanaman tapak dara (Catharanthus
roseus) untuk pengobatan kelenjar prostat
membesar;
c. akar kumis kucing (Coleus
forskohlii): obat untuk mengobati
diabetes ;
d. Dioscorea dumetorum dan
Harungana vismia, dan beberapa obat
didasarkan pada daun succulents keluarga
Mesembryanthemaceae.
Sistem pengobatan tradisional berdasarkan
pengetahuan lokal memang telah
dilakukan oleh masyarkat di daerah tropis
sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu.
Sistem perawatan kesehatan ini penting,
terutama ketika pelayanan kesehatan
formal perawatan tidak ada. Pasar untuk
obat tradisional saat ini telah berkembang,
dan banyak dari itu adalah di tangan
perempuan, misalnya dalam pembuatan
dan penjualan jamu.
4. Menyediakan oksigen O 2
Dengan jumlah pepohonan yang
banyak, tentunya hutan akan memberikan
suplay kebutuhan oksigen yang cukup
besar bagi kehidupan di muka bumi ini.
5. Menyerap karbon dioksida (CO 2 )
Carbon dioksida adalah gas yang
berbahaya apabila dihirup secara berlebih
oleh manusia. Namun ternyata di sisi lain
tumbuhan memerlukan gas tersebut untuk
menghasilkan oksigen yang sangat
dibutuhkan makhluk bumi. Keberadaan
hutan yang luas di muka bumi akan
memberikan peluang penyerapan karbon
dioksida yang lebih besar.
6. Mencegah erosi
Hutan juga dapat mencegah erosi.
Keberadaan kawasan hutan yang luas juga
dapat membantu mencegah erosi atau
pengikisan tanah. Pengikisan tanah dapat
disebabkan oleh air.
7. Pelestarian Plasma Nutfah
Plasma nutfah merupakan bahan baku
yang penting untuk pembangunan di masa
depan, terutama di bidang pangan,
sandang, papan, obat-obatan dan industri.
Penguasaannya merupakan keuntungan
komparatif yang besar bagi Indonesia di
masa depan.
8. Mengatasi Penggenangan
Daerah rendah yang sering digenangi
air perlu ditanami dengan jenis tanaman
yang mempunyai kemampuan
evapotranspirasi yang tinggi.
9. Pelestarian Air Tanah
Jika hujan lebat terjadi, maka air hujan
akan turun masuk meresap ke lapisan
tanah yang lebih dalam menjadi air
infiltrasi dan air tanah dan hanya sedikit
yang menjadi air limpasan. Dengan
demikian pelestarian hutan pada daerah
resapan air dari kota yang bersangkutan
akan dapat membantu mengatasi masalah
air dengan kualitas yang baik.
10. Sebagai sarana pendidikan
Hutan digunakan sebagai sarana belajar
bagi manusia termasuk mahasiswa
kehutanan, hutan memberikan
pengetahuan bagi kehidupan manusia.
Tumbuhan ekosistem dan makhluk hidup
lain dapat dipelajari.
PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK PADA TANAMAN KOPI
Dosis Total per Hektar
AGT_BIOTech cair = 3-7 ltr/ha
AGT_BIOTech padat = 40-80 kg/ha
Akan Mengurangi
Penggunaan Pupuk Makro 25%-50%
dan Akan Meningkatkan
Hasil Panen
· Buat bedengan dengan lebar 1,2
meter dan jarak bedengan 30 cm,
panjang bedengan disesuaikan dengan
keperluan dan kondisi lahan.
· Pohon pelindung ditanam satu tahun
sebelum penanaman panili, apabila
menggunakan stump (diameter batang
3-4 cm) dapat 3-4 bulan sebelum
tanam. Pohon pelindung dapat
digunakan Glyricidia maculate
(Cepbreng), lamtoro atau dadap. Jarak
pohon pelindung disesuaikan dengan
jarak tanam panili (1,5 x 1 m atau 1,5 x
1,5 meter). Lubang untuk penanaman
dibuat 30 x 30 x 30 cm. Tanah galian
dicampur dengan 1 kg AGT_BIOTech
padat dan 4 kg pupuk kandang
(kompos) lalu dikembalikan ke lubang
tanam setelah 2-3 minggu bersamaan
dengan penanaman pohon pelindung.
Penanaman Bibit
· Bibit yang digunakan mempunyai
7-8 ruas (± 1 meter), sebaiknya stek
diambil pada awal musim hujan dari
tanaman induk satu minggu sebelum
tanam.
· Buat lubang tanam dekat tanaman
pelindung 15x15x15 cm, tanam stek
dengan tiga ruas tertanam ditanah
(sebelumnya daun dibuang terlebih
dahulu), sisa stek bagian atas diikat
pada pohon pelindung.
· Larutkan 2 tutup botol (20 cc)
AGT_BIOTech cair ke dalam 10 liter air,
siramkan
Pemupukan Tanaman
1. Aplikasi pada umur 0-1 tahun
a. Larutkan AGT_BIOTech padat
sebanyak 3 kg dalam 200 liter, siram
pada daerah perakaran tanaman
sebanyak 2,5 liter per tanaman (50 gr
per tanaman). Lakukan aplikasi ini
setiap 1 bulan sekali.
b. Aplikasi setiap sebulan sekali dengan
menggunakan 8 tutup botol
AGT_BIOTech cair (80 cc) per tangki.
Semprot merata pada permukaan
bawah daun dan tanah sekitar
batang tanaman.
2. Aplikasi pada umur 2- 4 tahun.
a. Larutkan AGT_BIOTech padat
sebanyak 4 kg dalam 200 liter, siram
pada daerah perakaran tanaman
sebanyak 2,5 liter per tanaman (75 gr
per tanaman). Lakukan aplikasi ini
setiap 3 minggu sekali.
b. Aplikasi setiap 3 minggu sekali
dengan menggunakan 10 tutup botol
AGT_BIOTech cair (80 cc) per tangki.
Semprot merata pada permukaan
bawah daun dan tanah sekitar
batang tanaman.
3. Aplikasi pada umur diatas 4 tahun.
a. Larutkan AGT_BIOTech padat
sebanyak 5 kg dalam 200 liter, siram
pada daerah perakaran tanaman
sebanyak 2,5 liter per tanaman (100
gr per tanaman). Lakukan aplikasi
ini setiap 2 minggu sekali.
b. Aplikasi setiap 2 minggu sekali
dengan menggunakan 12 tutup botol
AGT_BIOTech cair (80 cc) per tangki.
Semprot merata pada permukaan
bawah daun dan tanah sekitar
batang tanaman.
PEREMAJAAN TANAMAN KOPI
kopi sambung/stek yg ingin saya jelaskan
adalah: penyambungan antara tunas batang
dengan ranting/cabang dr pohon kopi yg lain,
dimana mata tunas menjadi bagian bawah
dan ranting/cabang diletakan di bagian atas.
Tujuan dari penyambungan ini adalah untuk
merubah gen/keturunan dr pohon kopi
tersebut, contoh: kopi yg berbuah hijau di
rubah/disambung dengan yg
putih,coklat,kuning. tetapi TUJUAN yang
paling UTAMA adalah untuk meningkatkan
hasil produksi dr pohon kopi tersebut,dengan
cara menyambungkan antara kopi yg tidak
berbuah lebat dengan yg berbuah lebat
sepanjang tahun.
Adapun tahapan atau persiapan dari
penyambungan ini adalah sebagai berikut:
A.PERALATAN:
1.Gunting (untuk memotong),
2.Pisau tipis (membelah),
3.Tali rapiah (mengikat),
4.Plastik Es(membungkus, tp bisa juga d
jadikan pengikat).
B.BAHAN:
1.Tunas batang (tunas yg telah kt siapkan
untuk di jadikan bagian bawah).
2.Ranting/cabang(untuk dijadikan bagian
atas).
C.PEMILIHAN BIBIT:
1.Tunas minimal sudah berumur tiga bulan
maksimal 6-9 bulan/kulitnya sudah coklat,
dari pohon kopi yg sehat tidak terkena
penyakit,sehingga tunas yg tumbuh sehat
pula, karena tujuan penyambungan ini utuk
kopi tipe menyamping/tipe payung maka
tunas yg d pelihara harus terletak lebih dr
100Cm dr pangkal batang, paling tidak
tingginya seukuran dagu kt. Dan jika kita
ingin menyambung tunas yg tumbuh d
pangkal batang maka tunas itu harus berumur
lebih dr 1tahun.
2.Ranting/cabang dipilih dari pohon kopi yg
selalu berbuah lebat sepanjang tahun, buah
sedang-besar,buku/ruas ranting kerab
maksudnya antara dompol buah sama
samasekali tidak berjarak, dompol buah
besar,daun kecil tebal meruncing,sisi daun
seperti mata gergaji dan permukaan
berombak. (saya suka buahnya yg berbuntut
seperti pusaran).
D.PENYAMBUNGAN
1.Potong tunas batang dengan
gunting,sisakan 4 cm/empat jari tangan, lalu
sisi ujungnya d rapikan dengan pisau,
2.Belah tunas batang dengan pisau dari atas
menjadi dua belahan,belahlah disisi
permukaan/di kulit ikutkan saja sedikit bagian
kayunya, kedalaman pembelahan 1,5 cm.
3.Potong ranting dngn gunting,ambil satu
ruas ranting dipilih dari ruas yg ketiga dari
ujung sampai kepangkal tp jangan yg terlalu
tua, ukuran potong 3 cm .
4.Setelah di ambil satu ruas, ujung bawah
dari ruas tadi dibentuk seperti mata linggis /
dua sisi dari ujung ruas dipotong miring kira
kira duapuluh derajat.
5.Tancapkan ujung ruas ranting yg berbentuk
seperti mata linggis tadi ke dalam belahan
tunas batang, dan usahakan kulit tunas dan
kulit ranting bertemu,bertemu satu sisi saja
itu sudah cukup.
6.Ikat sambungan dengan tali rapiah atau
apapun yg bisa digunakan untuk mengikat,
“asal jangan tali tandan aja ea.. ” jika
dngn tali rapiah,ikat hati2 dari atas
kebawah,lalu kunci ikatan tersebut, dan jk
dngn plastik es tarik plastik hingga
memanjang lalu ikatkan pd sambungan.
7.Tutup/bungkus sambungan dengan plastik
Es, lalu ikat pembungkus dengan tali
rapiah,agar tidak dimasuki udara,semut atau
apapun.
(penutup tidak di ikat tidak apa2 tp mudah d
dimasuki oleh apapun
, sedangkan penutup yg dikat kelemahanya
setelah 1 hr akan berisi air krn panas yg
menimbulkan uap air.
8.Terakhir tunggu 10-25 hari, hingga
sambungan tadi memunculkan tunas baru,
setelah itu pembungkus dan ikatan boleh di
lepas.
Pemanasan Global
kita ketahui Pemanasan global atau Global
Warming adalah adanya proses peningkatan
suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan
Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi
telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32
°F) selama seratus tahun terakhir.
Intergovernmental Panel on Climate Change
(IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar
peningkatan suhu rata-rata global sejak
pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar
disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi
gas-gas rumah kaca akibat aktivitas
manusia”[1] melalui efek rumah kaca.
Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh
setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik,
termasuk semua akademi sains nasional dari
negara-negara G8. Akan tetapi, masih
terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju
dengan beberapa kesimpulan yang
dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek
IPCC menunjukkan suhu permukaan global
akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0
hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.
[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan
oleh penggunaan skenario-skenario berbeda
mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa
mendatang, serta model-model sensitivitas
iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar
penelitian terfokus pada periode hingga 2100,
pemanasan dan kenaikan muka air laut
diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih
dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas
rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan
besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan
menyebabkan perubahan-perubahan yang lain
seperti naiknya permukaan air laut,
meningkatnya intensitas fenomena cuaca
yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan
pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan
global yang lain adalah terpengaruhnya hasil
pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya
berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para
ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan
yang diperkirakan akan terjadi di masa depan,
dan bagaimana pemanasan serta perubahan-
perubahan yang terjadi tersebut akan
bervariasi dari satu daerah ke daerah yang
lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan
politik dan publik di dunia mengenai apa, jika
ada, tindakan yang harus dilakukan untuk
mengurangi atau membalikkan pemanasan
lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap
konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian
besar pemerintahan negara-negara di dunia
telah menandatangani dan meratifikasi
Protokol Kyoto, yang mengarah pada
pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
•
Penyebab pemanasan global
Efek rumah kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi
berasal dari Matahari. Sebagian besar energi
tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek,
termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini
tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya
menjadi panas yang menghangatkan Bumi.
Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian
panas dan memantulkan kembali sisanya.
Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra
merah gelombang panjang ke angkasa luar.
Namun sebagian panas tetap terperangkap di
atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah
gas rumah kaca antara lain uap air, karbon
dioksida, dan metana yang menjadi perangkap
gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap
dan memantulkan kembali radiasi gelombang
yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas
tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi.
Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga
mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi
terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas
dalam rumah kaca. Dengan semakin
meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di
atmosfer, semakin banyak panas yang
terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh
segala makhluk hidup yang ada di bumi,
karena tanpanya, planet ini akan menjadi
sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata
sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah
lebih panas 33 °C (59 °F)dari temperaturnya
semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu
bumi hanya -18 °C sehingga es akan
menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan
tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut
telah berlebihan di atmosfer, akan
mengakibatkan pemanasan global.